Orasi Ilmiah di Husnul Khotimah Kuningan, UAS : Menjadi Santri adalah Keberuntungan

Tajug  
Ustadz Abdul Shomad (UAS). (Humas Ponpes Husnul Khotimah)
Ustadz Abdul Shomad (UAS). (Humas Ponpes Husnul Khotimah)

KUNINGAN -- Datuk Seri Ulama Setia Negara Prof DR Ustadz Abdul Shomad Batubara, Lc, D.E.S.A., Ph.D. atau yang akrab disapa Ustadz Abdul Shomad (UAS), mengungkapkan, belajar di pondok pesantren dan menjadi seorang santri merupakan sebuah keberuntungan. Pasalnya, pendidikan di pesantren lebih luas dan mendalam dibanding sekolah umum lainnya.

‘’Anak-anak SMP, SMA, mohon maaf, bukan bermaksud mengecilkan atau menyudutkan; Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris, satu tangan selesai. Tapi pesantren? Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Balaghoh, Ma’ani, Mantik, Bayan, Muhaddatsah, Muthola’ah. Ini baru bahasa. Selain itu ada Fiqih, Qowaidul Fiqih, Ushul Fiqih, Hadits, Rijalul Hadits, Tafsir dan lainnya,’’ kata UAS, saat menghadiri acara Haflah At Takhoruj atau kelulusan wisudawan wisudawati santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kabupaten Kuningan Angkatan 25, Ahad (19/6/2022).

UAS diundang untuk menyampaikan orasi ilmiah kepada seluruh hadirin, khususnya para santri Husnul Khotimah. Lebih dari 2 ribu orang, yang terdiri dari 727 wisudawan wisudawati (64 diantaranya santri Hafizh Quran), 168 tamu kehormatan dan para guru, serta lebih dari 1.500 orang tua santri turut hadir dalam acara itu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

UAS menambahkan, dengan menimba ilmu di pondok pesantren, maka anak-anak juga akan terselamatkan dari Facebook, Twitter, Telegram, dan gangguan-gangguan internet lainnya. Dengan demikian, mereka bisa lebih fokus dalam menuntut ilmu dan tidak asal memilih pergaulan.

‘’Berbanggalah kalian para Ibu, sudah mengandung anak selama sembilan bulan sepuluh hari. Dengan tetesan keringat penuh air mata, kulitnya sobek meregang nyawa. Betapa menyakitkan, jika anak yang dilahirkan itu menjadi anak durhaka. Maka kalian (para santri) sudah selamat.’’ tukas UAS dalam orasi ilmiahnya.

UAS pun berharap, para santri lulusan Husnul Khotimah ada yang diterima di Cambridge University ataupun Harvard University.

‘’Kenapa Ustadz Shomad tidak menyebut Universitas Al Azhar? Universitas Islam Madinah? Karena lulusan pesantren ke Timur Tengah itu sudah biasa! Kalau misalkan lulusan pesantren melanjutkan ke Eropa, ke Amerika, dan hatinya tetap Laa Ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah, itu baru luar biasa!,’’ tukas UAS.

UAS juga menceritakan kisah tentang seorang sahabat Nabi bernama Zaid bin Tsabit. Semasa zaman Nabi, Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Yahudi dari berbagai kabilah hanya dalam waktu nishfu syahr atau setengah bulan.

Dengan kemampuannya itu, Zaid bin Tsabit kemudian ditunjuk oleh Nabi Muhammad SAW menjadi penerjemah atas surat-surat yang dikirimkan kepada beliau.

‘’Jangan kalian anti bahasa! Banyak orang belajar bahasa Arab doang supaya bisa baca kitab kuning, kata mereka bahasa Inggris itu bahasa orang munafik! Tidak sesuai tulisan dan perkataan, one dibaca wan,’’ tutur UAS berkelakar.

UAS menegaskan pula agar para santri jangan memahami dakwah hanya berupa ceramah atau tausyiah. Dia menyatakan, dakwah memiliki makna yang lebih besar dari itu. Menurutnya, dakwah adalah mengajak orang untuk menuju jalan Allah SWT.

‘’Caranya bisa macam-macam, tapi sekolah dulu yang lebih penting,’’ cetus UAS.

Setelah menyelesaikan orasi ilmiahnya, UAS menerima seserahan dari Ponpes Husnul Khotimah berupa lukisan tangan karya salah seorang santri. (Lilis Sri Handayani)

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image