Dilarang Buang Sampah, Lalu Warga Buang Kemana? Pemuda Majasih Punya Solusinya

Jogregan  
Program Resik Bersih di Desa Majasih. (Dok Diskominfo Kabupaten Indramayu)
Program Resik Bersih di Desa Majasih. (Dok Diskominfo Kabupaten Indramayu)

INDRAMAYU – Para pemuda Desa Majasih, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, patut diacungi jempol. Mereka memprakarsai pengolahan sampah yang ada di desanya.

Selama ini, sampah kerap menjadi permasalahan di mana-mana, terutama di pedesaan. Pasalnya, pedesaan jauh dari jangkauan truk pengangkut sampah yang dimiliki pemerintah daerah.

Begitu pula di Desa Majasih. Banyaknya sampah yang menumpuk di berbagai tempat, membuat pemandangan di desa itu terlihat tidak indah. Padahal, pemerintah desa setempat telah memasang banyak spanduk yang berisi imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kondisi itu membuat salah seorang pemuda Desa Majasaih, Iman, bersama teman-temannya menginisiasi pengelolaan sampah di desanya.

Iman menyatakan, pemasangan spanduk larangan membuang sampah seharusnya dibarengi dengan solusi. Ketika ada larangan membuang sampah di tempat tertentu, seharusnya ada tempat yang disediakan sebagai tempat pembuangan sampah warga.

‘’Kalau dilarang buang sampah di sini, masyarakat harus buang di mana? Pemerintah Desa yang memasang larangan seharusnya menyediakan solusinya,’’ ujar Iman, Ahad (3/7/2022).

Untuk itu. sejak awal Januari 2022, Iman menggandeng para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi seperti Irmas, Slankers dan komunitas lainnya, membentuk kelompok swadaya pengelola sampah. Kelompok itu diberi nama Resik Bersih dan memulai upaya pengelolaan sampah di Desa Majasih.

Resik Bersih menawarkan solusi penanganan sampah dengan pengurangan sampah dari sumbernya (rumah tangga). Hal itu melalui jasa angkut sampah dan Bank Sampah. Jasa angkut sampah itu tidak hanya dilakukan siang hari, tetapi juga malam hari.

Sekretaris Resik Bersih, Iis Iswanto, menjelaskan, melalui Bank Sampah, secara tidak langsung dapat mengedukasi warga untuk meningkatkan kesadaran dalam memilah serta mendaur ulang sampah.

‘’Saat ini, proses pengolahan sampah yang dilakukan Resik Bersih adalah dengan memilah sampah menjadi sampah organik dan sampah non-organik,’’ terang Iis.

Namun, sejauh ini, Resik Bersih baru mampu mengolah dan mendaur ulang sepuluh persen sampah yang terkumpul. Sedangkan sisanya, diangkut ke TPA Sampah. Penyebabnya, Resik Bersih belum mempunyai infrastruktur pengolahan sampah yang memadai.

Sampah organik diolah secara biologis. Sedangkan sampah non-organik, didaur ulang agar bernilai ekonomis atau dikelola melalui bank sampah.

Sedangkan sampah yang tidak bernilai ekonomis, yang merupakan residu sampah, diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Iis menuturkan, biaya operasional untuk pengangkutan residu sampah ke TPA Sampah sangat besar. Kondisi itu dikarenakan kuantitas sampah yang cukup banyak.

Iis berharap, ada perhatian serius dan bantuan dari pemerintah maupun pihak swasta yang mempunyai komitmen terhadap keberlangsungan lingkungan.

Iis menambahkan, dengan upaya yang sudah terbukti mampu mengurangi sampah, kini Resik Bersih sudah mempunyai 424 anggota. Diharapkan, jumlah anggota itu terus bertambah sehingga pengolahan sampah semakin luas. (Lilis Sri Handayani)

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image