Tanaman Air Penyerap Logam Berat, Keistimewaan Tersembunyi di Taman Kehati

Wisata  
Taman Kehati Indramayu. (Lilis Sri Handayani)
Taman Kehati Indramayu. (Lilis Sri Handayani)

INDRAMAYU – Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) di Kecamatan/Kabupaten Indramayu memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan taman kehati lainnya. Salah satunya, merupakan replika rawa gelam satu-satunya di Pulau Jawa.

Di alam, ekosistem rawa gelam (pohon kayu putih) umumnya ditemukan di luar Pulau Jawa, seperti misalnya di Kabupaten Raja Ampat.

Taman Kehati Indramayu masuk kategori Taman Kehati lahan basah pesisir. Taman Kehati itu menjadi salah satu perwakilan ekosistem rawa payau yang sudah mulai hilang di Pulau Jawa.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Namun, tak hanya itu, keistimewaan lain dari Taman Kehati Indramayu adalah adanya tanaman-tanaman air yang bisa menyerap logam berat yang mencemari perairan setempat. Alhasil, air yang keluar melalui Taman Kehati sudah dalam kondisi bersih dari pencemaran.

Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Profesor Hendra Gunawan, menjelaskan, temuan itu terungkap saat dilakukan penelitian terhadap kualitas air di selokan depan Taman Kehati Indramayu. Air selokan tersebut berasal dari pembuangan limbah dari lingkungan di sekitarnya.

‘’Saat diteliti, air selokan itu mengandung bahan pencemar terutama logam berat, seperti timbal, merkuri, kadmium, tembaga dan mangan,’’ ujar Hendra kepada Republika, di Taman Kehati Indramayu, Jumat (1/7/2022) sore.

Dari selokan, air tersebut masuk hingga bahan-bahan pencemarnya terakumulasi di lahan basah yang ada di dalam Taman Kehati Indramayu. Dengan kemampuan yang dimilikinya, tanaman-tanaman air yang tumbuh di Taman Kehati Indramayu langsung mendeteksi keberadaan bahan-bahan pencemar itu.

Tanaman-tanaman air, seperti Raksasa Amazon (Victoria amazonica) yang berjuluk ‘’Sang Ratu Malam’’, teratai ungu (Nymphaea nouchali Burm.f.), teratai putih (Nyimphaea alba L.), kangkung air maupun ekor kucing, kemudian bekerja menyerap logam-logam berat dalam air tersebut.

Teratai Raksasa Amazon yang berjuluk 'Sang Ratu Malam'. (Ilustrasi/Lilis Sri Handayani)
Teratai Raksasa Amazon yang berjuluk 'Sang Ratu Malam'. (Ilustrasi/Lilis Sri Handayani)

‘’Setelah bahan-bahan pencemar itu terserap oleh tanaman air, maka air yang keluar dari Taman Kehati Indramayu ini sudah menjadi lebih jernih dan bersih dari pencemaran. Inilah salah satu kelebihan Taman Kehati Indramayu, yang merupakan lahan basah,’’ kata pria yang juga ahli konservasi keanekaragaman hayati tersebut.

Atas dasar itulah, lanjut Hendra, Taman Kehati Indramayu akan dijadikan sebagai constructed wetland atau lahan basah buatan. Yakni, lahan basah yang dikonstruksikan mirip dengan sistem lahan basah alami untuk memperbaiki kualitas perairan dari pencemaran.

‘’Ini cocok dipakai untuk di perkotaan, dimana banyak rumah yang membuang limbah langsung ke selokan,’’ tukas Hendra.

Wamen LHK, Alue Dohong (depan) dan Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Profesor Hendra Gunawan (kedua dari depan). (Istimewa)
Wamen LHK, Alue Dohong (depan) dan Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Profesor Hendra Gunawan (kedua dari depan). (Istimewa)

Taman Kehati Indramayu itu merupakan hasil revitalisasi Hutan Kota Kayu Putih, yang terwujud berkat kerja sama PT Polytama Propindo dengan Pemkab Indramayu.

Hendra menyebutkan, perkembangan flora maupun fauna di Taman Kehati Indramayu pun terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Seperti misalnya untuk tumbuhan air, dari yang semula ada 11 jenis kini menjadi 15 jenis.

Selain itu, burung yang tadinya ada 18 jenis kini menjadi 30 jenis. Bahkan beberapa di antaranya berstatus dilindungi.

Begitu pula pohon yang tadinya ada 33 spesies, sekarang menjadi 41 spesies. Penambahan pun terjadi pada pohon rawa, dari 13 spesies menjadi 24 spesies.

‘’Penambahan itu terjadi dalam dua tahun terakhir ini,’’ terang Hendra.

Taman Kehati Indramayu pun meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai replika ekosistem taman gelam pertama yang dikembangkan untuk wisata kota, pada 2021 silam.

Taman Kehati Indramayu juga menjadi penangkaran Rusa Jawa (Rusa Timorensis). Rusa Jawa termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Sedangkan berdasarkan Red List IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), Rusa Jawa termasuk spesies hewan dengan kategori Vulnerable atau rentan.

General Manager Corporate Secretary PT Polytama Propindo, Dwinanto Kurniawan, mengatakan, selain Taman Kehati, pihaknya juga menata Ekoriparian Tjimanoek. Kini keduanya menjadi RTH andalan wisata masyarakat yang terdapat di pusat kota Indramayu.

‘’Ini merupakan bagian dari konsep Polytama untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam memajukan daerah, sertapeningkatan ekonomi masyarakat sekitar,’’ tandas Dwinanto. (Lilis Sri Handayani)

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image