Jadi Istri Sunan Gunung Jati, Ibu Penguasa Banten Ini Makamnya Ramai Didatangi Peziarah

Wisata  
Situs makam Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten di Kecamatan Kedokanbunder. (Dok Diskominfo Kabupaten Indramayu)
Situs makam Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten di Kecamatan Kedokanbunder. (Dok Diskominfo Kabupaten Indramayu)

INDRAMAYU -- Sosok Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat di Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu. Ratusan tahun lalu, perempuan itulah yang membuka hutan Lebak Sungsang, yang kini menjadi wilayah Kedokanbunder.

Siapakah beliau? Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten merupakan istri dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari pernikahan itu, lahirlah Sultan Maulana Hasanuddin, yang menjadi sultan Banten yang pertama.

Dimakamkan di Desa Kedokanbunder, Situs Makom Nyi Mas Ratu Kawunganten selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah. Tak hanya dari wilayah Kabupaten Indramayu, para peziarah juga datang dari luar daerah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Selain area makom, di tempat itu juga terdapat situs Sumur Gede peninggalan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Dalam sejarahnya, sumur tersebut telah menjadi penyelamat bagi warga untuk memenuhi kebutuhan air minum, mandi, berwudhu, bercocok tanam maupun kebutuhan lainnya ketika musim kering tiba.

Di sekitar area sumur itu juga terdapat pohon-pohon besar yang tumbuh sejak zaman dulu.

Secara perlahan, Situs Makom Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten telah dilakukan berbagai perbaikan dan penataan. Karenanya, lokasi tersebut saat ini terlihat lebih asri.

Kepala Desa Kedokanbunder, Waskim, mengatakan, di saat tertentu, situs tersebut sangat ramai oleh rombongan peziarah yang jumlahnya mencapai puluhan bus. Mereka melakukan napak tilas mulai dari Banten, Kedokanbunder (Indramayu), Cirebon, dan lainnya.

‘’Puluhan bus besar itu terpaksa harus parkir di jalan besar karena kami tidak mempunyai lokasi parkir. Akibatnya, para peziarah harus berjalan kaki cukup jauh,’’ kata Waskim, Kamis (19/5/2022).

Waskim menambahkan, ketika tiba saatnya haul, ribuan warga juga akan memadati situs tersebut. Pihak keluarga keraton dari Cirebon juga akan datang dan berbaur dengan masyarakat.

Waskim berharap, keberadaan situs itu bisa terus dikembangkan. Dia pun meminta kepada Pemkab Indramayu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ataupun Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga untuk mengembangkan sarana dan prasarana lainnya yang sangat dibutuhkan.

‘’Potensi ini harus terus kita kembangkan. Kami minta dukungan dari Pemkab Indramayu agar daerah Kedokanbunder ini bisa bersaing dengan daerah lainnya,’’ tegas Waskim.

Sementara itu, Camat Kedokanbunder, Atang Suwandi, menilai, berbagai hal yang harus dikembangkan di Situs Nyi Mas Ratu Kawunganten di antaranya adalah ketersediaan lahan parkir, pembagian akses jalan masuk dan keluar serta kelengkapan sarana di dalam situs.

Selain itu, dibutuhkan pula pusat oleh-oleh yang diisi oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal, dan promosi wisata ziarah (paket wisata) atau agenda wisata dengan menggandeng biro perjalanan wisata.

Atang menambahkan, jika pengembangan itu bisa dilakukan, maka situs Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten bisa menjadi tujuan wisata religi seperti halnya Gunung Jati di Cirebon ataupun tempat lainnya.

‘’Banyak aspirasi dari masyarakat yang berharap agar situs ini bisa terus dikembangkan. Masukan ini kami sampaikan ke pimpinan yang lebih tinggi dalam hal ini Bupati Indramayu,’’ tandas Atang. (Lilis Sri Handayani)

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image